Sunday, 26 February 2017

Salles Penolong



Setelah mengikuti pelatihan yang hanya jalan kaki sejauh 7 kilometer. Kini para marketing memulai debut kariernya di perusahaan itu. Mereka mengikuti arahan dan penempatan kerja sesuai surat yang mereka terima.

Tidak ada protes dari para marketing yang akan dikirim ke berbagai penjuru kota di indonesia, mereka menurut saja. Satu kelompok marketing tetdiri dari 10 sales yang di pimpin seorang yang telah di tunjuk dari perusahaan. Mereka juga tidak ada pengalaman marketingan baik pimpinan maupun anggota, cuma modal nekad itu saja.

Sampailah rombongan marketing kloter 3 di salah satu kota yang belum pernah mereka datangi. Boro-boro keluar kota antar propinsi keluar antar kabupaten saja tidak pernah. Maklum mereka ini benar-benar orang kampung yang hanya tahu kerja itu ngarit dan nyangkul saja.

Tidak ada survey pasar. Setelah sampai kota tujuan di tampung di sebuah rumah kontrakan yang sudah disiapkan plus barang dagangan. Malam langsung istirahat, sopir hanya mengasih tahu barang dagangan yang harus dijual esok hari.

Suara adzan subuh menandakan waktu pagi telah tiba. Antri mandi satu persatu, yang menunaikan sholat subuh ambil air wudhu di kran depan rumah.

Setelah segala persiapan pribadi selesai mereka berkumpul depan rumah guna apel pagi. Apel pagi dipimpin ketua rombangan yang sudah ditunjuk. Ketua rombongan orang yang awam dalam acara seremonial. Akhirnya apel pagi hanya di isi baca doa bersama, setelah itu maju jalan mencari lokasi tempat jualan berbeda beda.

Wasiman (nama samaran) salah seorang anggota kloter 3 yang sangat lugu. Dia memilih jalan belok kanan pisah dari rombonganya pas diperempatan jalan.

Wasiman menyusuri jalan perumahan yang sepi, padahal masih pagi. Sambil memangul barang dagangan Wasiman menoleh kanan dan kiri siapa tahu ada yang mau beli. Jalan terus tidak pernah berhenti karena perumahan memang sepi.

Terlihatlah oleh Wasiman seorang bapak yang lagi mencuci mobil di depan rumahnya. Wasiman bergegas menghampiri untuk menawarkan daganganya. Namun apa yang terjadi, bibir wasiman terasa terkunci. Niat hati pingin menawarkan ternyata mulut susah diajak kompromi.

"Ada yang bisa di bantu mas?". Sapa bapak pencuci mobil mendahului. "Tidak pak". Jawab Wasiman. Namun wasiman tidak juga beranjak pergi, sambil menaruh barang dagangan yang ia bawa di tempat yang aman.

Sambil mengulung lengan baju panjang putihnya wasiman menawarkan diri, "saya bantu mencuci mobilnya ya pak". Wasiman dengan semangat mengambil kain dan mengosok mobil berhadapan dengan bapak tadi. "Gak usah mas, malah ngerepoti saja". Kata bapak pencuci mobil. " wah tidak apa-apa pak, saya senang kok". Jawab wasiman tidak menghiraukannya tetap mengosok mobil. Akhirnya selesailah mereka berdua mencuci mobil.

Selesai membantu mencuci mobil Wasiman bergegas pergi, namun ditahannya. "Jangan pergi dulu, temeni saya minum teh dulu". Pinta bapak. "Iya pak". Wasiman tidak menolaknya. Akhirnya terjadilah obrolan panjang antara mereka berdua. Wasiman ditanya apa yang dibawa, darimana dan lain sebagainya.

"Bu, sini bu". Bapak itu memanggil istrinya untuk memilih barang dagangan yang dibawa Wasiman. Wasiman dengan lugu menerangkan harga daganganya. Akhirnya ibu itu memilih salah satu dagangan wasiman dan minta sekalian di pasangkan.

Tanpa menawarkan wasiman berhasil menjual barang dagangan yang paling mahal, malah di kasih lebih dari uang dagangan.

Selesai memasang di salah satu dinding wasiman menerima uang bayaran kontan dan dilebihkan. Wasiman bergegas meneruskan perjalanan guna menjajakan barang dagangnya. Dengan hati gembira wasiman bergegas balik ke rumah kontrakan dan nenghitung uang hasil jualan.

BERSAMBUNG.......

No comments:

Post a Comment