Rabu, 01 Maret 2017

SALLES MARKETING LILLAHI TA'ALA


Menyambung dari tulisan Kisah Marketing Kampung, kali ini saya akan coba menulis salah seorang anggota marketing kloter 3 yang bernama Solihun ( nama samaran ). Solihun ini dimata saya dan teman-teman sesama marketing tergolong orang yang langka. Secara kasat mata dia sama seperti kita pada dasarnya, namun dia sangat berbeda dalam hal bisnis yaitu dunia selles marketing. Dia punya cara yang sangat berbeda dengan orang-orang pada umumnya dalam hal pemasaran produk atau barang.

Solihun, mempunyai latar belakang agama yang kuat. Dia termasuk santri yang penurut pada waktu di pesantren. Pesantren Solihun terletak di desa, termasuk kategori pesantren salaf, pesantren yang mempelajari kitab-kitab kuning dan gundul. Dimana dalam pesantren itu tidak diajarkan ilmu-ilmu ketrampilan hidup, seperti beternak, bercocok tanam, apa lagi ilmu marketingan.

Sesama salles marketing keliling, Solihun termasuk the best marketing. Setiap keluar mencari orderan selalu closing dengan jumlah yang mengembirakan. Pada umumnya rombongan salles marketing keliling kloter 3 kelompoknya Solihun satu orang bisa menjual produk atau barang dagangan 1 biji dalam 3 hari bahkan ada yang satu bulan hanya mampu closing satu kali. Nah Solihun setiap hari closing satu biji bahkan 3 biji produk barang dagangan. Ini yang menarik saya untuk mengulasnya.

Teman-temen Solihun pada penasaran, bagaimana Sholihun cara berjualan, trik dan setrategi apa yang digunakan Solihun sehingga bisa setiap hari closing.

Pada dasarnya Solihun ini anak pemalu, sedikit bicara, bahkan jarang bicara kalo tidak penting. Di dunianya yang baru sebagai salles marketing keliling di tuntut pandai bicara, pandai menawarkan barang dan mempengaruhi calon konsumen supaya membeli produk. Sangat kontras dengan kepribadian Solihun yang pendiam.

Sepulang dari keliling menawarkan produk Solihun langsung laporan kepada leader yang telah di tunjuk perusahaan. Solihun melaporkan dua barang yang laku jual, ini prestasi yang luar biasa total produk yang dijualnya sudah mencapai lebih dari 30 biji dalam waktu dua minggu. Teman-teman Solihun hanya mampu menjual paling banyak 10 biji, sangat jauh dengan bila di banding Solihun.

 Setelah laporan Solihun langsung mandi dan seperti biasa menjelang magrib Solihun membaca Al qur'an sanpai azdan magrib berkumandang. Selepas magrib biasa pada ngobrol dan berbagi pengalaman cerita pekerjaan seharian. Namun Solihun sibuk dengan dunianya sendiri yaitu membaca Al qur'an samapai adzan iysa'.

Solihun menjadi bintang di kloter 3 karena prestasi jualanya. Teman-teman Sholihun pada curiga ilmu apa yang di pakai Solihun atau jimat apa yang dibawanya. Pada akhirnya Sarma, salah satu anggota kloter 3 punya keinginan berjualan bareng sama Solihun sekalian pingin belajar bersamanya. Solihun pun menolaknya, karena Solihun sendiri tidak tahu apa-apa tentang ilmu marketing. Tapi Sarma tetap memaksanya, akhirnya Solihun menyanggupinya dengan berat hati dan perasaan malu.

Pada esok harinya Solihun dan Sarma pun pergi berdua. Keluar rumah jalan kaki belum tahu daerah mana yang akan ditujunya. Sarma pun bertanya malah dijawab balik bertanya. Akhirnya Sarma ngikuti saja kemana Solihun mau menawarkan dan menjual produknya.

Ketemulah rumah yang lumayan, tidak begitu megah tapi mewah. Terlihat ada seseorang yang sedang menyiram tanaman dihalaman rumah. Solihun pun menyuruh Sarma untuk menyamperinya. Tapi Sarma tidak mau, niat Sarma pingin melihat cara Solihun menawarkan produk seperti apa carannya.

Tidak disangka oleh Sarma ternyata, Solihun tidak banyak bicara  dalam menawarkan produknya. Dia hanya menyodorkan buku katalok yang dibawa. Dalam buku itu sudah komplit rincian, spesifikasi dan harga serta cara pembayaranya. Solihun menyerahkan semua keputusan pada konsumenya. Paling kata yang keluar dari mulut Solihun hanya salam, menyampaikan buku katalog, bila konsumen bertanya atau menawar harganya Solihun hanya bilang " ya seperti di buku itu baik harga maupun barangnya, kalo mau ambil silahkan kalo tidak ya terima kasih".

Solihun tidak banyak mengumbar kata dalam berjualan, dia pemalu dan dia takut kalo banyak bicara malah keluar dari apa yang tertulis dibuku. Iya sangat lugu dan polos, mukanya juga tidak memelas, bahkan orang melihatnya saja pingin senyum karena melihat kepolosan dan keloguanya.

Jadi silahkan ambil sendiri hikmah dan pelajaran apa yang anda dapat dari kisah Solihun ini. Kalo saya simpulkan ya semua rezki tergantung pada Illahi.

 Pelajaran yang saya dapat dari kisah ini  adalah menawarkan produk denga ketulusan hati yang dibarengi dengan ketaatan kepada Ilahi lebih mumpuni dari pada kemampuan diri.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar