Selasa, 15 Agustus 2017

Dalam Angkutan Umum


Perjalananku kali ini menyusuri pinggir kota.
Aku numpang angkutan umum trayek B jurusan
jalan Lingkar. Kurang seperempat putaran
tujuan perjalananku baru sampai.

Udara panas lembab dan pengap, hujan
sebentar yang menguyur disusul terik matahari
yang menyengat. Keringat bercucur bau dacin
kecut bercampur bau parfum.

Angin menerpa lewat pintu dan jendela tidak mampu mengurangi pengap, penumpang mengusap keringat dengan tisu dan lengan baju. Aku pun tidak tinggal diam demi kenyamanan aku ambil kertas untuk berkipas.

Lampu merah menyala, pertanda kendaraan harus berhenti sementara. Demi keselamatan perjalanan sopir menghentikan mobil. Melintas seorang pengemis yang membawa keresek hitam mengetuk-ngetuk mobil sedan. Aku penasaran, memperhatikan mobil sedan dan pengemis. Tiba-tiba hatiku miris melihat pengemis seketika lari terbirit-birit melihat Satpol PP turun dari mobil.

Pengemis itu terlihat kurus kumal giginya kuning meringis, ia tertangkap Satpol PP.  Digelandang naik mobil truk meronta minta dibebaskan, apa daya melawan aturan Perda Ketertiban. Akhirnya entah dibawa kemana pengemis itu sama Satpol PP. Sementara mobil sedan tetap diam menunggu lampu hijau tanda harus berjalan.

Dalam angkutan umum yang aku tumpangi bau keringat yang bercampur parfum kini bertambah bau alas kaki. Kepalaku menjadi pusing mencium bau yang bertambah dacin, tiba-tiba perutku bergolak, keringat dingin keluar, tengorokan tidak mampu menahan luapan, akhirnya aku muntahkan isi perut sebelum sampai tujuan.

Btg14Agustus2017
Hsn

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

google-site-verification: google0a459c5ae92c6f5c.html

google-site-verification: google0a459c5ae92c6f5c.html